SOAL:

Apa hukum berwudhu di kamar mandi yang ada WC-nya? Bagaimana dengan bacaan basmalahnya?

JAWAB:

Dibolehkan berwudhu di kamar mandi yang ada WC-nya dengan dalil hadits Aisyah dalam Shohih Muslim 1/253: “Bahwasanya Rosululloh sholallohu alaihi wassalam jika mandi janabah memulai dengan membasuh kedua tangannya lalu menuangkan dengan tangan kanannya ke tangan kirinya dan membasuh kemaluannya kemudian wudhu seperti wudhunya untuk sholat…” Di dalam hadits ini Rosululloh sholallohu alaihi wassalam istinja’ sebelum berwudhu yang menunjukkan bahwa dibolehkan berwudhu di dalam tempat buang hajat, tentang bacaan basmalah maka Rosululloh sholallohu alaihi wassalam memerintahkan untuk basmalah sebelum berwudhu di mana pun berada sebagaimana di dalam sabdanya: “Tidak sempurna wudhu seseorang yang tidak disebutkan nama Alloh subhanahu wata’ala pada-nya.” (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan yang lainnya. Lihat Shohihul Jami’: 7444)

Al-Imam Bukhori di dalam Shohihnya 1/343 membawakan riwayat dari Ibrohim an-Nakho’i bahwa dia berkata: “Tidak apa-apa membaca al-Qur’an (termasuk basmalah) di dalam hammam (kamar mandi/WC).”

vvv

SOAL:

Apakah disyariatkan mengangkat tangan dan menghadap kiblat ketika berdo’a setelah wudhu?

JAWAB:

Tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa ketika berdo’a setelah wudhu mengangkat tangan dan menghadap kiblat sehingga hal itu tidak disyari’atkan.

vvv

SOAL:

Apakah hadats itu sama dengan najis? Apakah terkena najis membatalkan wudhu?

JAWAB:

Di dalam Mu’jam Lughotul Fuqoha’ hlm. 475 disebutkan bahwa najasah (najis) terbagi dua: Pertama: Najasah Haqiqiyyah (najis sebenarnya) yaitu hal-hal yang najis seperti berak, kencing dan hal-hal yang najis lainnya. Kedua: Najasah Hukmiyyah (najis secara hukum) yaitu hadats besar yang mewajibkan mandi dan hadats kecil yang mewajibkan wudhu.

Adapun terkena najis maka tidak membatalkan wudhu tetapi hendaknya dia membersihkan anggota tubuhnya yang terkena najis tersebut (Lihat Fatawa wa Maqolat Syaikh Bin Baz Jilid 10 Bab Nawaqidhul Wudhu’ yang diambil dari acara Nurun ala Darb kaset no. 52)

vvv

SOAL:

Apakah kotoran cicak itu najis?

JAWAB:

Kotoran cicak adalah najis karena cicak termasuk binatang yang dagingnya haram dimakan dengan dalil bahwa Rosululloh sholallohu alaihi wassalam memerintahkan untuk membunuhnya. Dan kotoran binatang yang haram dimakan dagingnya adalah najis dengan dalil hadits Abdulloh bin Mas’ud yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam Shohihnya 1/39 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Shohih Ibnu Majah 1/114 bahwa Rosululloh sholallohu alaihi wassalam tidak mau istinja’ dengan kotoran keledai dan mengatakan: “Dia adalah kotor.” (Lihat Al-Wajiz fi Fiqhi Sunnati wal Qur’anil Aziz hlm. 19)

vvv

SOAL:

Apa saja yang termasuk udzur menghadiri sholat jama’ah?

JAWAB:

Udzur-udzur yang memperbolehkan seseorang tidak menghadiri sholat jama’ah adalah:

1. Sakit yang sangat.

2. Hujan deras.

3. Dingin yang sangat.

4. Angin yang sangat kencang.

5. Ketakutan yang sangat.

6. Kegelapan yang sangat.

7. Berak dan kencing.

8. Ketika makanan sudah dihidangkan maka hendaknya dimakan dulu baru kemudian sholat jama’ah (Lihat Fiqh Sunnah 1/220-221)

9. Mengobati orang yang sakit jika ditinggalkan untuk sholat jama’ah maka dia mati.

(Lihat Fatwa Lajnah Daimah: 4324)

vvv

SOAL:

Sudah menjadi kebiasaan saudara-saudara kita, mereka mengqodho’ sholat wajib ketika ada udzur maupun tidak ada udzur. Bagaimanakah hukum mengqodho’ sholat wajib?

JAWAB:

Meninggalkan sholat wajib tanpa udzur adalah dosa besar, dan tentang mengqodho’ sholat wajib maka Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Jika orang yang meninggalkan sholat dengan sengaja itu tidak mengingkari wajibnya sholat, maka jika ia mengqodho sholat yang ditinggalkannya, maka hal itu dibolehkan, sebagai sikap hati-hati dan untuk keluar dari perbedaan pendapat orang yang mengatakan bahwa tidaklah kafir (orang yang meninggalkan sholat) jika ia tidak mengingkari wajibnya. Dan pendapat ini adalah pendapat kebanyakan para ulama.” (Tanya Jawab Tentang Rukun Islam hlm. 102)

vvv

SOAL:

Seorang wanita mendapati dirinya haid tiga puluh menit setelah adzan sedangkan dia belum sholat, apakah dia berkewajiban mengqodho’ sholat ketika sudah suci?

JAWAB:

Wanita ini tiga puluh menit setelah adzan belum sholat hingga dia haid maka dia telah sembrono di dalam mengakhirkan sholatnya dan wajib atasnya mengqodho’ sholat tersebut setelah suci (Lihat Fatawa wa Maqolat Syaikh Bin Baz Jilid 10 Bab Haid dan Nifas)

vvv

SOAL:

Jika seseorang sudah mandi junub, apakah dia perlu berwudhu ketika hendak sholat? Bagaimana dengan mandi yang lain; mandi Jum’at, mandi hari Idul Fithri dan mandi Idul Adhha, apakah sama hukumnya dengan mandi junub?

JAWAB:

Jika seseorang sudah mandi junub maka dia tidak perlu berwudhu lagi jika ketika mandi meniatkan menghilangkan hadats kecil dan hadats besar, akan tetapi yang lebih utama hendaknya dia istinja’ kemudian berwudhu dan menyempurnakan mandinya sebagaimana dicontohkan oleh Nabi sholallohu alaihi wassalam.

Adapun mandi yang lain; mandi Jum’at, mandi hari Idul Fithri dan mandi Idul Adhha, maka harus berwudhu lagi. (Lihat Fatawa wa Maqolat Syaikh Bin Baz Jilid 10 Bab al-Ghuslu)

vvv

SOAL:

Apa hukumnya membiasakan mengelap (mengeringkan) anggota wudhu dengan kain setelah wudhu?

JAWAB:

Dibolehkan mengelap anggota wudhu dengan kain setelah wudhu. Al-Imam Tirmidzi berkata: “Sebagian ahli ilmu baik dari kalangan sahabat maupun orang-orang setelah mereka membolehkan mengeringkan air wudhunya dengan sapu tangan. Sedangkan orang yang memakruhkannya sesungguhnya memakruhkannya dari segi adanya perkataan: ‘Sesungguhnya wudhu akan ditimbang.’” (Jami’ Tirmidzi 1/76-77)

vvv

SOAL:

Seorang berniat menjama’ ta’khir antara sholat Maghrib dan Isya’, ketika sampai di masjid dia mendapati jama’ah sedang sholat Isya’ apa yang harus dia lakukan?


JAWAB:

Wajib atas seseorang yang berniat menjama’ ta’khir antara sholat Maghrib dan Isya’ agar sholat Maghrib dahulu, jika dia masuk ke dalam jama’ah yang sedang sholat Isya’ dengan niat sholat Maghrib dan duduk dan salam di roka’at yang ketiga maka sholatnya sah. (Lihat Fatwa Lajnah Daimah: 13014)

vvv

SOAL:

Bagaimana hukum menjama’ sholat Jum’at dan sholat Ashar?

JAWAB:

Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman hafidzohullohu berkata: “Sholat Jum’at apabila dilaksanakan pada waktu yang tidak menerima kebersamaan dengan waktu Ashar seperti pada waktu Dhuha, maka tidak boleh dijama’ dengan sholat Ashar. Adapun apabila sholat Jum’at ditunaikan pada waktu yang menerima kebersamaan dengan Ashar yaitu waktu Dzuhur (setelah tergelincirnya matahari, sebagaimana keadaan kaum muslimin sekarang), maka boleh dijama’ dengan sholat Ashar.” (Dari CD Soal Jawab bersama beliau di Dauroh Syar’iyyah Lawang JATIM tanggal 24-28 Robi’uts Tsani 1424 H)

vvv

SOAL:

Apakah plester, perban, dan semisalnya yang menutupi luka menyebabkan wudhu tidak sah? Bagaimana tatacara wudhu/mandi orang yang kulitnya/lukanya ditutup plester?

JAWAB:

Telah datang riwayat dari Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Baihaqi di dalam Sunan Kubro 1/228 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Tamamul Minnah hlm. 134 bahwa dia berwudhu dalam keadaan telapak tangannya diperban, maka dia mengusap anggota tubuh yang diperban dan membasuh yang lainnya.

vvv

SOAL:

Apakah hukumnya seseorang sholat dengan memejamkan mata-nya dengan alasan lebih khusyu’?

JAWAB:

Tidak boleh sholat dengan memejamkan mata karena hal ini menyelisihi Sunnah Rosululloh sholallohu alaihi wassalam sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Baihaqi di dalam Sunan Kubro 2/283 dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Sifat Sholat Nabi sholallohu alaihi wassalam hlm. 89 bahwasanya: “Rosululloh sholallohu alaihi wassalam ketika sholat menundukkan kepalanya dan melihat dengan matanya ke tanah.”

Syaikh al-Albani berkata: “Di dalam hadits ini bahwa yang Sunnah hendaknya seseorang mengarahkan pandangannya ke tempat sujudnya di tanah, sedangkan yang dilakukan oleh sebagian orang yang sholat dengan memejamkan mata di dalam sholatnya maka ini adalah sikap yang berlebihan, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi sholallohu alaihi wassalam. (Sifat Sholat Nabi sholallohu alaihi wassalam hlm. 89)

vvv

SOAL:

Bolehkan mendirikan sholat berjama’ah ketika imam rowatib sudah selesai sholat?


JAWAB:

Jumhur Ulama memakruhkan mengulang sholat berjama’ah di dalam masjid yang memiliki imam rowatib dengan dalil-dalil di bawah ini:

1. Bahwa Rosululloh sholallohu alaihi wassalam datang dari sudut Madinah hendak sholat, ternyata beliau mendapati orang-orang telah sholat, maka beliau berpaling menuju ke rumahnya beliau kumpulkan keluarganya dan sholat mengimami mereka. (Diriwayatkan oleh Thobroni di dalam al-Ausath: 4739 dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Tamamul Minnah hlm. 155)

2. Para sahabat jika mereka masuk ke dalam masjid yang telah sholat jama’ah maka mereka sholat sendiri-sendiri (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Mushonnafnya 2/223)

3. Dari Ibrohim an-Nakho’i bahwa Alqomah dan Aswad datang bersama Ibnu Mas’ud ke dalam masjid dan ternyata orang-orang sudah sholat maka Ibnu Mas’ud pulang bersama keduanya ke rumahnya… kemudian sholat mengimami keduanya. (Diriwayatkan oleh Abdurrozaq di dalam Mushonnaf 2/409 dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Tamamul Minnah hlm. 155)

Al-Imam asy-Syafi’i berkata: “Sesungguhnya mereka –para sahabat– mampu untuk melakukan jama’ah di masjid, tetapi mereka sholat sendiri-sendiri di masjid, hal itu karena mereka membenci diadakan jama’ah dua kali di dalam satu masjid.” (Al-Umm 1/136)

vvv

SOAL:

Bagaimana hukum mengangkat tangan untuk berdo’a setiap kali selesai sholat fardhu? Bagaimana jika dilakukan setiap selesai sholat sunnah?


JAWAB:

Tidak disyari’atkan mengangkat tangan untuk berdo’a setiap kali selesai sholat fardhu karena Rosululloh sholallohu alaihi wassalam tidak pernah melakukannya. Adapun setiap selesai sholat Sunnah maka dibolehkan meskipun yang lebih afdhol tidak melakukannya secara terus-menerus, karena yang terus-menerus tidak diriwayatkan dari Rosululloh sholallohu alaihi wassalam. (Lihat Tanya Jawab tentang Rukun Islam oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz hlm. 118 )

vvv

SOAL:

Apakah seorang makmum tetap wajib membaca surat al-Fatihah pada sholat jahriyyah?

JAWAB:

Makmum tidak wajib membaca surat al-Fatihah pada sholat jahriyyah sebagaimana riwayat Abu Huroiroh bahwa para sahabat tidak membaca surat al-Fatihah ketika sholat jahriyyah bersama Rosululloh (Diriwayatkan oleh Malik di dalam Muwaththo’ 1/86 dan Humaidi di dalam Musnadnya 2/423 dan Ahmad di dalam Musnadnya 2/240 Abu Dawud di dalam Sunannya 1/218 dan dishohihkan oleh Abu Hatim dan Ibnul Qoyyim, Lihat Sifat Sholat Nabi hlm. 99)

vvv

SOAL:

Apa yang harus dilakukan jika di dalam sholat mendapati sisa makanan di dalam mulut?

JAWAB:

Jika ketika sholat mendapati sisa makanan di dalam mulut maka hendaknya dikeluarkan, adapun jika ditelan dengan sengaja maka sholatnya batal. Ibnul Mundzir berkata: “Ahli ilmu telah sepakat bahwa barangsiapa yang makan atau minum dengan sengaja di sholat wajib maka dia wajib mengulangi sholatnya.” Dan berkata ulama madzhab Syafi’i dan Hanbali: “Tidak batal sholat dengan makan atau minum karena lupa atau tidak tahu, demikian juga jika di sela-sela gigi ada makanan yang besarnya di bawah kerikil kemudian ditelan.” (Lihat al-Mabsuth 2/59, Bahru Roiq 4/99, Fiqh Sunnah 1/255)

vvv

SOAL:

Bagaimana hukum sholat berjama’ah yang shof makmum terputus oleh pilar/tiang atau dinding?

JAWAB:

Dimakruhkan sholat berjama’ah yang shof makmum terputus oleh pilar sebagaimana dalam hadits Mu’awiyah bin Quroh dari bapaknya bahwasanya dia berkata: “Kami dilarang membuat shof di antara pilar-pilar di zaman Rosululloh, kami diusir darinya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam Sunannya 1/320 dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Silsilah Shohihah 1/655) (Lihat al-Wajiz hlm. 136)

vvv

SOAL:

Jika seorang wanita suci dari haidnya pada waktu Ashar, apakah wajib baginya melakukan sholat Dzuhur?

JAWAB:

Jika seorang wanita suci dari haidnya pada waktu Ashar, maka wajib bagi-nya melakukan sholat Dzuhur, menurut pendapat yang rojih. Karena waktu kedua sholat tersebut adalah satu bagi orang yang mendapat halangan seperti wanita yang haid. (Lihat Tanya Jawab tentang Rukun Islam oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz hlm. 90)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s